Laman

April 21, 2011

Inilah Jihad Sesungguhnya

Bom kembali meledak, tepatnya pekan lalu di salah satu masjid Allah di daerah Cirebon, Jawa Barat. Kejadian ini menjadi berita hangat dan terdepan di media massa.

Terlepas dari motif dan maksud peledakan bom - yang tentunya hanya pelaku dan Allah I yang  mengetahuinya - yang pasti bahwa tindakan ini adalah kemungkaran dan bertentangan dengan syariatNya.

Tak pelak,banyak spekulasi yang muncul berkaitan kejadian ini. Umat Islam pun sudah menghafal, setiap ada peristiwa serupa, maka Islam dan sebagian umatnya menjadi kambing hitam dan tertuduh. Parahnya, ada yang menisbahkannya kepada jihad. Padahal, sungguh Islam dengan syariat jihadnya yang suci berlepas diri dari semua ini.

Nah, pada kesempatan kali ini, kami akan membahas secara singkat hakikat dan kedudukan jihad dalam Islam. Hal ini sengaja kami angkat, kiranya dapat menjadi petunjuk dalam mendudukkan jihad pada tempatnya. Selamat membaca.


JIHAD DALAM SYARIAT ISLAM
Jihad merupakan puncak kekuatan dan kemuliaan Islam. Ia menjadi sebab kokoh dan mulianya umat Islam. Sebaliknya, meninggalkannya  akan mendatangkan kehinaan. Sebagaimana hadits dari Ibnu Umar t beliau berkata, Rasulullah r bersabda :
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
"Apabila kalian telah berjual-beli ‘inah, mengambil ekor sapi dan ridha dengan pertanian serta meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kalian kerendahan (kehinaan). Allah tidak mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian" [HR Abu Dawud].

Namun, amal kebaikan ini harus memenuhi syarat ikhlas dan sesuai dengan syariat Islam. Karena keduanya merupakan syarat diterimanya suatu amalan. Disamping itu juga, jihad bukanlah perkara mudah bagi jiwa. Sangat erat kaitannya dengan pertumpahan darah, jiwa dan harta, yang menjadi perkara agung dalam Islam, sebagaimana disampaikan

Rasulullah r bersabda :
فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَ أَعْرَاضَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا إِلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ
"Sesungguhnya, darah, kehormatan dan harta kalian, diharamkan atas kalian (saling menzhalimi), seperti kesucian hari ini, pada bulan ini dan di negeri kalian ini, sampai kalian menjumpai Rabb kalian. [HR. Bukhari dan Muslim].

MAKNA  DAN PEMBAGIAN JIHAD
Secara umum, hakikat jihad mempunyai makna yang sangat luas. Yaitu berjihad melawan hawa nafsu, berjihad melawan setan, dan berjihad melawan orang-orang fasik dari kalangan ahli bid’ah dan maksiat. Sedangkan menurut syara’, jihad adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk memerangi orang kafir [Lihat Fathul Bari (6/77)].

Sehingga dapat disimpulkan, jihad itu meliputi empat bagian :
·   Pertama, Jihad melawan hawa nafsu.
·   Kedua, Jihad melawan setan.
·   Ketiga, Berjihad melawan orang-orang fasik, pelaku kezhaliman, pelaku bid’ah dan pelaku kemungkaran.
·   Keempat, Jihad melawan orang-orang munafik dan kafir.
Jihad melawan hawa nafsu, meliputi empat masalah :
·   Pertama, berjihad melawan hawa nafsu dalam mencari dan mempelajari kebenaran dan agama yang haq.
·   Kedua, berjihad melawan hawa nafsu dalam mengamalkan ilmu yang telah didapatkan.
·   Ketiga, berjihad melawan hawa nafsu dalam mendakwahkan ilmu dan agama yang haq.
·   Keempat, berjihad melawan hawa nafsu dengan bersabar dalam mencari ilmu, beramal dan dalam berdakwah.

Jihad melawan setan, bisa dilakukan dengan dua cara :
·         Pertama, berjihad melawan setan dengan menolak setiap apa yang dilancarkan setan yang berupa syhubhat dan keraguan yang bisa mencederai keimanan.
·         Kedua, berjihad melawan setan dengan menolak setiap apa yang dilancarkan setan dan keinginan-keinginan hawa nafsu yang merusak.

Jihad melawan orang-orang fasik, pelaku kezhaliman, pelaku bid’ah dan pelaku kemungkaran, meliputi tiga tahapan, yakni : dengan tangan apabila mampu. Jika tidak mampu, maka dengan lisan. Dan jika tidak mampu juga, maka dengan hati, yang setiap kaum muslim wajib melakukannya. Yaitu dengan cara membenci mereka, tidak mencintai mereka, tidak duduk bersama mereka, tidak memberikan bantuan terhadap mereka, dan tidak memuji mereka. Rasulullah r bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
"Barangsiapa yang melihat dari kalian satu kemungkaran, maka hendaklah merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan lisannya. Lalu, bila tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman". [HR Muslim].

Jihad melawan orang fasiq dengan lisan merupakan hak orang-orang yang memiliki ilmu dan kalangan para ulama. Yaitu dengan cara menegakkan hujjah (argumentasi) dan membantah hujjah mereka, serta menjelaskan kesesatan mereka, baik dengan tulisan ataupun dengan lisan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah  mengatakan: “Apabila seorang mubtadi’ (pelaku bid’ah) menyeru kepada aqidah yang menyelisihi al-Qur`an dan Sunnah, atau menempuh manhaj yang bertentangan dengan al-Qur`an dan Sunnah, dan dikhawatirkan akan menyesatkan manusia, maka wajib untuk menjelaskan kesesatannya, sehingga orang-orang terjaga dari kesesatannya dan mereka mengetahui keadaannya” [Lihat Al Fatawa (28/221)].

Adapun berjihad melawan orang fasik dengan tangan, maka ini menjadi hak bagi orang-orang yang memiliki kekuasaan atau Amirul Mukminin, yaitu dengan cara menegakkan hudud (hukuman) terhadap setiap orang yang melanggar hukum-hukum Allah dan RasulNya. Sebagaimana pernah dilakukan Abu Bakr t dengan memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat, ‘Ali bin Abi Thalib t memerangi orang-orang Khawarij dan orang-orang Syi’ah Rafidhah.

Bagaimana dengan berjihad melawan orang-orang munafik dan kafir?

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menyatakan, jihad memerangi orang kafir adalah fardu ‘ain; dia berjihad dengan hatinya, atau lisannya, atau dengan hartanya, atau dengan tangannya; maka setiap muslim berjihad dengan salah satu di antara jenis jihad ini [Lihat Zadul Ma’ad (3/64)].

Akan tetapi, berjihad memerangi orang kafir dengan tangan hukumnya fardu kifayah, dan tidak menjadi fardu ‘ain, kecuali jika terpenuhi salah satu dari empat syarat berikut ini :
·   Pertama, apabila dia berada di medan pertempuran.
·   Kedua, apabila negerinya diserang musuh.
Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan : “Apabila musuh telah masuk menyerang sebuah negara Islam, maka tidak diragukan lagi, wajib bagi kaum muslimin untuk mempertahankan negaranya dan setiap negara yang terdekat, kemudian yang dekat, karena negara-negara Islam adalah seperti satu negara”. (Al lkhtiyarat, 311).

·   Ketiga, apabila diperintah oleh Imam (Amirul Mukminin) untuk berperang.
·   Keempat, apabila dibutuhkan, maka jihad menjadi wajib. [Lihat Al Mughni, Al Majmu’, Zaadul Mustaqni’].

Jihad melawan orang-orang kafir dengan tangan ini, dibagi menjadi dua :
·   Pertama, Jihadul Fat-h wath Thalab (jihad ofensif/menyerang).
Jihad ini memerlukan terpenuhinya syarat-syarat syar’iyyah (syarat-syarat yang telah ditentukan oleh syari’at Islam), sebagai berikut :
1. Adanya seorang imam (pemimpin).
2. Ada Daulah (negara).
3. Ada ar-Raayah (bendera jihad).

·   Kedua, Jihadud Difaa' (jihad defensive/bertahan/pembelaan).
Jihad ini hukumnya fardhu ‘ain atas seluruh penduduk negeri yang diserang oleh musuh (agresor). Jika penduduk negeri tersebut lemah, maka mereka harus dibantu oleh penduduk negeri tetangganya yang terdekat.

Jihad syar’i ini harus memiliki persiapan syar’i berupa :
Pertama, persiapan pembinaan keimanan sehingga umat dapat menegakkan hakekat ibadah kepada Allah Rabb semesta alam, melatih jiwa mereka di atas Kitabullah, mensucikan hati mereka di atas Sunnah Nabi-Nya r sehingga mereka dapat menolong agama Allah I dan syari’at-Nya.

Kedua, persiapan fisik, yakni mempersiapkan jumlah pasukan dan perlengkapannya untuk melawan musuh-musuh Allah dan memerangi mereka. Allah I berfirman, artinya  :
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedangkan Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” [QS. Al-Anfaal: 60].

MAKSUD DAN TUJUAN JIHAD
Allah I tidak mewajibkan dan mensyariatkan sesuatu tanpa adanya maksud tujuan yang agung.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyatakan, maksud dan tujuan jihad adalah, menyampaikan agama Allah dan mengajak orang mengikutinya. Mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya Islam dan meninggikan agama Allah di muka bumi, serta menjadikan agama ini hanya untuk Allah semata, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur`an:
öNèdqè=ÏG»s%ur 4Ó®Lym Ÿw šcqä3s? ×puZ÷GÏù tbqà6tƒur ß`ƒÏe$!$# ¼ã&#à2 ¬! 4 ÂcÎ*sù (#öqygtGR$#  cÎ*sù ©!$# $yJÎ/ šcqè=yJ÷ètƒ ׎ÅÁt/ ÇÌÒÈ  
“dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah, jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan [QS. al-Anfal : 39].
Nabi r  bersabda, artinya : "Aku diperintahkan memerangi manusia hingga bersaksi dengan syahadatain, menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah berbuat demikian, maka darah dan harta mereka telah terjaga dariku, kecuali dengan hak Islam. Dan hisab mereka diserahkan kepada Allah". [HR. Bukhari dan Muslim].

Dari keterangan di atas, maka jelaslah bahwa maksud tujuan disyariatkannya jihad adalah untuk menegakkan agama Islam di muka bumi ini, dan bukan untuk dendam pribadi, atau golongan. Sehingga melakukan kekacauan (anarki), menteror orang, melemparkan bom, menakut-nakuti orang yang aman atau orang-orang yang dijaga keamanannya oleh negara, membunuh anak-anak, wanita dan orang tua dengan nama jihad dari agama ini adalah tidak benar. Mereka telah keluar dari jalannya para ulama dan kaum muslimin.

Demikian secara singkat hakikat jihad yang ssesungguhnya. Semua ini harus dipahami oleh kaum muslimin, sehingga dalam menetapkan jihad, sesuai dengan kaidah syariat yang agung yang harus dipenuhi. Wallahu a’lam.

Sumber :
·    Majalah As-Sunnah, Edisi 05 dan 11/Tahun IX/1426H/2005 ;
·    Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'I ; dan lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar