November 10, 2010

Hukum Qurban Orang yang Telah Meninggal

Beberapa waktu yang lalu, redaksi menerima pertanyaan dari salah seorang pembaca, perihal hukum qurban bagi orang yang telah meninggal dunia. Apakah ia boleh mengurbankan orangtuanya yang telah meninggal dunia? Sampaikah pahala qurban tersebut kepadanya?

Masalah ini adalah masalah yang acapkali kita dapati di tengah kaum muslimin. Para ulama, sejak dahulu hingga hari ini telah membahasnya dan menjelaskannya kepada kita. Di antara ulama abad ini yang menjelaskan masalah tersebut adalah Syaikh Utsaimin Rahimahullah Ta’ala dalam Kitab Syarhul Mumti’ .

Pada kesempatan kali ini, kami menuliskannya kepada para pembaca sekalian, yang banyak kami ambil dari fatwa beliau Rahimahullah Ta’ala. Semoga dapat memberikan pencerahan bagi umat. Selamat membaca.
Hukum qurban bagi orang yang sudah meninggal, secara garis besar ada tiga bentuk, yakni :

[1]. Orang yang meninggal bukan sebagai sasaran qurban utama namun statusnya mengikuti qurban keluarganya yang masih hidup. Contohnya, seorang menyembelih seekor qurban untuk dirinya dan ahli baitnya, baik yang masih hidup dan yang telah meninggal dunia.

Demikian ini boleh, dengan dasar sembelihan qurban Nabi  untuk dirinya dan ahli baitnya (keluarganya), dan di antara mereka ada yang telah meninggal sebelumnya.

Sebagaimana tersebut dalam hadits dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, beliau berkata, artinya : “Sesungguhnya Rasulullah  meminta seekor domba bertanduk, lalu dibawakan untuk disembelih sebagai qurban. Lalu beliau berkata kepadanya (Aisyah), “Wahai Aisyah, bawakan pisau”, kemudian beliau  berkata : “Tajamkanlah (asahlah) dengan batu”. Lalu ia melakukannya. Kemudian Nabi  mengambil pisau tersebut dan mengambil domba, lalu menidurkannya dan menyembelihnya dengan mengatakan : “Bismillah, wahai Allah! Terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad”,kemudian menyembelihnya” [HR. Muslim].

Hal ini meliputi yang masih hidup atau telah mati dari umatnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata : “Diperbolehkan menyembelih qurban seekor kambing bagi ahli bait, isteri-isterinya, anak-anaknya dan orang yang bersama mereka, sebagaimana dilakukan para sahabat” [Majmu Al-Fatawa (23/164)].

Sehingga seorang yang menyembelih qurban seekor domba atau kambing untuk dirinya dan ahli baitnya, maka pahalanya dapat diperoleh juga oleh ahli bait yang dia niatkan tersebut, baik yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Jika tidak berniat baik secara khusus atau umum, maka masuk dalam ahli bait semua yang termaktub dalam ahli bait tersebut, baik secara adat maupun bahasa. Ahli bait dalam istilah adat, yaitu seluruh orang yang di bawah naungannya, baik isteri, anak-anak atau kerabat. Adapun menurut bahasa, yaitu seluruh kerabat dan anak turunan kakeknya, serta anak keturunan kakek bapaknya.

[2]. Menyembelih qurban untuk orang yang sudah meninggal, disebabkan tuntunan wasiat yang disampaikannya. Jika demikian, maka wajib dilaksanakan sebagai wujud dari pengamalan firman Allah ,

فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

artinya : “Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” [QS. Al-Baqarah : 181].

Syaikh DR. Abdullah Ath-Thayaar berkata : “Adapun qurban bagi mayit yang merupakan wasiat darinya, maka ini wajib dilaksanakan walaupun ia (yang diwasiati) belum menyembelih qurban bagi dirinya sendiri, karena perintah menunaikan wasiat” [Lihat : Ahkam Al-Idain wa Asyara Dzilhijjah].

[3]. Menyembelih qurban bagi orang yang sudah meninggal, bukan sebagai wasiat dan juga tidak ikut kepada yang hidup, yang ditujukan sebagai shadaqah terpisah dari yang hidup , maka dalam hal ini para ulama berbeda pendapat.

Pertama, sebagian ulama menganggap ini sebagai satu hal yang baik dan pahalanya bisa sampai kepada mayit, sebagaimana sedekah atas nama mayit (lih. Fatwa Majlis Ulama Saudi no. 1474 & 1765).

Ulama yang berpendapat bolehnya, di antaranya ulama Hambaliyah (yang mengikuti madzhab Imam Ahmad) . Mereka menegaskan bahwa pahalanya sampai ke mayit dan bermanfaat baginya dengan menganalogikannya kepada shadaqah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata : “Diperbolehkan menyembelih qurban bagi orang yang sudah meninggal sebagaimana diperolehkan haji dan shadaqah untuk orang yang sudah meninggal. Menyembelihnya di rumah dan tidak disembelih qurban dan yang lainnya di kuburan” [Majmu Al-Fatawa (26/306)].

Kedua, sebagian ulama’ bersikap keras dan menilai perbuatan ini sebagai satu bentuk bid’ah, karena tidak ada tuntunan dari Nabi  . Tidak ada riwayat bahwasanya beliau berqurban atas nama Khadijah, Hamzah, atau kerabat beliau lainnya yang mendahului beliau  .

Syaikh Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya Syarhul Mumti’ 7/455 berkata, berqurban disyariatkan untuk yang hidup sebab tidak terdapat dari Nabi  , tidak pula dari para sahabat yang aku ketahui, mereka berqurban untuk orang-orang yang sudah meninggal secara khusus / tersendiri.

Putra-putri Rasulullah  telah meninggal saat beliau masih hidup, demikian pula telah meninggal istri-istri dan kerabat-kerabatnya, Rasulullah  tidak berkurban untuk satu orangpun dari mereka. Beliau   tidak berqurban untuk pamannya (Hamzah), tidak juga untuk istrinya (Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah), tidak pula untuk ketiga putrinya, dan seluruh anak-anaknya. Seandainya ini termasuk perkara yang disyariatkan, niscaya Rasulullah  akan menerangkannya dalam sunnahnya baik itu ucapan maupun perbuatan, akan tetapi hendaknya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya.

Lanjut beliau, dan adapun mengikutsertakan mayit / orang yang sudah meninggal, maka telah dijadikan dalil untuknya bahwa Nabi   berqurban untuknya dan untuk keluarganya, sedangkan keluarganya mencakup istri-istrinya yang telah meninggal dan istri-istrinya yang masih hidup, dan juga beliau berqurban untuk umatnya yang di antara mereka ada yang sudah meninggal dan juga yang belum ada. Akan tetapi berqurban untuk mereka (orang-orang yang sudah meninggal) secara khusus / tersendiri, aku tidak mengetahui ada asalnya dalam sunnah.

Kesimpulan


Dari penjelasan di atas, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa hukum qurban bagi orang yang telah meninggal, dibagi menjadi :
  1. Orang yang meninggal bukan sebagai sasaran qurban utama namun statusnya mengikuti qurban keluarganya yang masih hidup, maka hukum qurban seperti ini boleh.
  2. Menyembelih qurban untuk orang yang sudah meninggal, disebabkan tuntunan wasiat yang disampaikannya. Jika demikian, maka hukum qurban seperti ini wajib dilaksanakan.
  3. Menyembelih qurban bagi orang yang sudah meninggal, bukan sebagai wasiat bukan pula mengikuti orang yang masih hidup, dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Sebagian membolehkannya dan sebagian lagi menganggapnya tidak boleh. Wallahu A’lam.
Demikian penjelasan berkenaan dengan qurban bagi orang yang telah meninggal.
Wallahu A’lam.

Maraji’ :

Majalah As-Sunnah, Edisi 10/Tahun VIII/1425H/2004M dan lainnya.



 

1 komentar:

  1. terimakasih atas pencerahanya sudah lama kami sekeluarga ingin mendapat pencerahanya qurban untuk Ibu kami yang telah tiada

    BalasHapus