November 10, 2009

Hukum Imunisasi ( Kontroversi Imunisasi Vaksin Polio yang Mengandung Babi )


Sekilas Tentang Imunisasi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), imunisasi diartikan “pengebalan” (terhadap penyakit). Kalau dalam istilah kesehatan, imunisasi diartikan pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Biasanya imunisasi bisa diberikan dengan cara disuntikkan maupun diteteskan pada mulut anak balita (bawah lima tahun).

Vaksin adalah bibit penyakit (misal cacar) yang sudah dilemahkan, digunakan untuk vaksinasi.[2] Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak.


Imunisasi memiliki beberapa jenis, di antaranya imunisasi BCG, imunisasi DPT, imunisasi DT, imunisasi TT, imunisasi Campak, imunisasi MMR, imunisasi Hib, imunisasi Varicella, imunisasi HBV, imunisasi Pneumokokus Konjugata. Perinciannya bisa dilihat dalam buku-buku kedokteran, intinya jenis imunisasi sesuai dengan penyakit yang perlu dihindari.

Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.[3]

Jadi, imunisasi merupakan penemuan kedokteran yang sangat bagus dan manfaatnya besar sekali dalam membentengi diri dari berbagai penyakit kronis, padahal biayanya relatif murah.[4]

Hukum Asal Imunisasi

Imunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang, karena termasuk penjagaan diri dari penyakit sebelum terjadi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda : “ Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari itu dari racun dan sihir” (HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).

Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyari’atkannya mengambil sebab untuk membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi.[5] Demikian juga kalau dikhawatirkan terjadi wabah yang menimpa maka hukumnya boleh sebagaimana halnya boleh berobat tatkala terkena penyakit.[6]

Penggunaan Vaksin Polio Khusus (IPV)

Setelah sekelumit informasi tantang imunisasi di atas, sekarang kita masuk kepada permasalahan inti yang menjadi polemik hangat akhir-akhir ini, yaitu imunisasi dengan menggunakan vaksin polio khusus (IPV) yang dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang berasal dari babi. Bagaimanakah gambaran permasalahan yang sebenarnya ? Dan bagaimanakah status hukumnya?

A.Gambaran Permasalahan

Berdasarkan surat Menteri Kesehatan RI Nomor: 1192/MENKES/IX/2002, tanggal 24 September 2002, serta penjelasan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Departemen Kesehatan, Direktur Bio Farma, Badan POM, LP POM-MUI, pada rapat Komisi Fatwa, Selasa, 1 Sya’ban 1423 / 8 Oktober 2002; dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1.Pemerintah saat ini sedang berupaya melakukan pembasmian penyakit polio dari masyarakat secara serentak dengan cara pemberian dua tetes vaksin Polio oral (melalui saluran pencernaan).

2.Penyakit (virus) Polio, jika tidak ditanggulangi, akan menyebabkan cacat fisik (kaki pincang) pada mereka yang menderitanya.

3.Terdapat sejumlah anak balita yang menderita immunocompromise (kelainan sistem kekebalan tubuh) yang memerlukan vaksin khusus yang diberikan secara injeksi (vaksin jenis suntik).

4.Jika anak-anak yang menderita immunocompromise tersebut tidak diimunisasi maka mereka akan menderita penyakit polio serta sangat dikhawatirkan pula mereka akan menjadi sumber penyebaran virus.

5.Vaksin khusus tersebut (IPV) dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang berasal dari porcine (babi), namun dalam hasil akhir tidak terdeteksi unsur babi.

6.Sampai saat ini belum ada IPV jenis lain yang dapat menggantikan vaksin tersebut dan jika diproduksi sendiri maka diperlukan investasi (biaya/modal) sangat besar sementara kebutuhannya sangat terbatas.[7]

B.Jembatan Menuju Jawaban

Untuk sampai kepada status hukum imunisasi model di atas, kami memandang penting untuk memberikan jembatan terlebih dahulu dengan memahami beberapa masalah dan kaidah berikut, setelah itu kita akan mengambil suatu kesimpulan hukum.[8]

1.Masalah Istihalah

Maksud istihalah di sini adalah berubahnya suatu benda yang najis atau haram menjadi benda lain yang berbeda nama dan sifatnya. Seperti khamr berubah menjadi cuka, air menjadi garam, minyak menjadi sabun, dan sebagainya.[9]

Apakah benda najis yang telah berubah nama dan sifatnya tadi bisa menjadi suci? Masalah ini diperselisihkan ulama, hanya saya pendapat yang kuat menurut kami bahwa perubahan tersebut bisa menjadikannya suci, dengan dalil-dalil berikut :

a.Ijma’ (kesepakatan) ahli ilmu bahwa khamr apabila berubah menjadi cuka maka menjadi suci.

b.Pendapat mayoritas ulama bahwa kulit bangkai bisa suci dengan disamak, berdasarkan sabda Nabi : “ Kulit bangkai jika disamak maka ia menjadi suci.” ( Lihat Shahihul-Jami’ : 2711)

c.Benda-benda baru tersebut – setelah perubahan – hukum asalnya adalah suci dan halal, tidak ada dalil yang menajiskan dan mengharamkannya.

Pendapat ini merupakan madzhab Hanafiyyah dan Zhahiriyyah [10], salah satu pendapat dalah madzhab Malik dan Ahmad [11]. Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah [12], Inul Qoyyim, asy-Syaukani [13], dan lain-lain. [14]

Alangkah bagusnya ucapan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah : “Sesungguhnya benda suci apabila berubah menjadi najis maka hukumnya najis, seperti air dan makanan apabila telah berubah menjadi air seni dan kotoran. Kalau benda suci bisa berubah najis, lantas bagaimana mungkin benda najis tidak bisa berubah menjadi suci? Allah telah mengeluarkan benda suci dari kotoran dan benda kotor dari suci. Benda asal bukanlah patokan. Akan tetapi, yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut sekarang. Mustahil benda tetap dihukumi najis padahal nama dan sifatnya telah tidak ada, padahal hukum itu mengikuti nama dan sifatnya.” [15]

2.Masalah Istihlak

Maksud istihlak di sini adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda lainnya yang suci dan hal yang lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis dan keharamannya, baik rasa, warna, dan baunya.

Apabila benda najis yang terkalahkan oleh benda suci tersebut bisa menjadi suci? Pendapat yang benar adalah bisa menjadi suci, berdasarkan dalil berikut : 

Air itu suci, tidak ada yang menajiskannya sesuatu pun.” (Shahih. Lihat Irwa’ul-Ghalil:14)

“Apabila air telah mencapai dua qullah maka tidak najis.”(Shahih. Lihat Irwa’ul-Ghalil:23).

Dua hadits di atas menunjukkan bahwa benda yang najis atau haram apabila bercampur dengan air suci yang banyak, sehingga najis tersebut lebur tak menyisakn warna atau baunya maka dia menjadi suci. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Barang siapa yang memperhatikan dalil-dalil yang disepakati dan memahami rahasia hukum syari’at, niscaya akan jelas baginya bahwa pendapat ini paling benar, sebab najisnya air dan cairan tanpa bisa berubah, sangat jauh dari logika.”[16]

Oleh karenanya, seandainnya ada seseorang yang meminum khamr yang bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat khamr-nya hilang maka dia tidak dihukumi minum khamr. Demikian juga, bila ada seorang bayi diberi minum ASI (Air Susu Ibu) yang telah bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat susunya hilang maka dia tidak dihukumi sebagai anak persusuannya.”[17]

3.Dharurat dalam Obat

Dharurat adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman, yaitu ketika seorang memilki keyakinan bahwa apabila dirinya tidak menerjang larangan tersebut niscaya akan binasa atau mendapatkan bahaya besar pada badanya, hartanya atau kehormatannya. Dalam suatu kaidah fiqhiyyah dikatakan :

“Darurat itu membolehkan suatu yang dilarang”

Namun kaidah ini harus memenuhi dua persyaratan: tidak ada pengganti lainya yang boleh (mubah/halal) dan mencukupkan sekadar untuk kebutuhan saja.

Oleh karena itu, al-Izzu bin Abdus Salam rahimahullahmengatakan : “Seandainya seorang terdesak untuk makan barang najis maka dia harus memakannya, sebab kerusakan jiwa dan anggota badan lebih besar daripada kerusakan makan barang najis.” [20]

4.Kemudahan Saat Kesempitan

Sesungguhnya syari’at Islam ini dibangun di atas kemudahan. Banyak sekali dalil-dalil yang mendasari hal ini, bahkan Imam asy-Syathibi rahimahullah mengatakan: “Dalil-dalil tentang kemudahan bagi umat ini telah mencapai derajat yang pasti”. [20]

Semua syari’at itu mudah. Namun, apabila ada kesulitan maka akan ada tambahan kemudahan lagi. Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syafi’i tatkala berkata :

Kaidah syari’at itu dibangun (di atas dasar) bahwa segala sesuatu apabila sempit maka menjadi luas.” [21]

5. Hukum Berobat Dengan Sesuatu yang Haram

Masalah ini terbagi menjadi dua bagian :

a. Berobat dengan khamr adalah haram sebagaimana pendapat mayoritas ulama, berdasarkan dalil :

Sesungguhnya khomr itu bukanlah obat melainkan penyakit.” (HR. Muslim:1984)

Hadits ini merupakan dalil yang jelas tentang haramnya khamr dijadikan sebagai obat. [22]

b. Berobat dengan benda haram selain khamr. Masalah ini diperselisihkan ulama menjadi dua pendapat :

Pertama : Boleh dalam kondisi darurat. Ini pendapat Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan Ibnu Hazm. [23] Di antara dalil mereka adalah keumuman firman Allah :... Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.... (QS. Al- An’am [6]:119)

Demikian juga Nabi membolehkan sutera bagi orang yang terkena penyakit kulit, Nabi membolehkan emas bagi sahabat arfajah untuk menutupi aibnya, dan bolehnya orang yang sedang ihram untuk mencukur rambutnya apabila ada penyakit di rambutnya.

Kedua: Tidak boleh secara mutlak. Ini adalah madzab Malikiyyah dan Hanabillah. [24] Di antara dalil mereka adalah sabda Nabi :“Sesungguhnya allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan jangan berobat dengan benda haram” (Lihat ash-Shahihah : 4/174)

Alasan lainnya karena berobat hukumnya tidak wajib menurut jumhur ulama, dan karena sembuh dengan berobat bukanlah perkara yang yakin.

Pendapat yang kuat : 

Pada asalnya tidak boleh berobat dengan benda-benda haram kecuali dalam kondisi darurat, yaitu apabila penyakit dan obatnya memenuhi kriteria sebagai berikut :
1) Penyakit tersebut penyakit yang harus diobati
2) Benar-benar yakin bahwa obat ini sangat bermanfaat pada penyakit tersebut.
3) Tidak ada pengganti lainnya yang mubah. [25]

6. Fatwa-Fatwa

Dalam kasus imunisasi jenis ini, kami mendapatkan dua fatwa yang kami pandang perlu kami nukil di sini :

a. Fatwa Majelis Eropa Lil-Ifta’ wal-Buhuts

Dalam ketetapan mereka tentang masalah ini dikatakan : “Setelah Majelis mempelajari masalah ini secara teliti dan menimbang tujuan-tujuan syari’at, kaidah-kaidah fiqih serta ucapan para ahli fiqih, maka Majelis menetapkan :

1) Penggunaan vaksin ini telah diakui manfaatnya oleh kedokteran yanitu melindungi anak-anak dari cacat fisik (kepincangan) dengan izin Allah. Sebagaimana belum ditemukan adanya pengganti lainnya hingga sekarang. Oleh karena itu, menggunakannya sebagai obat dan imunisasi hukumnya boleh, karena bila tidak maka akan terjadi bahaya yang cukup besar. Sesungguhnya pinti fiqih luas memberikan toleransi dari perkara najis- kalau kita katakan bahwa cairan (vaksin) itu najis- apabila terbukti bahwa cairan najis ini telah lebur denga memperbanyak benda-benda lainnya. Ditambah lagi bahwa keadaan ini masuk dalam kategori darurat atau hajat yang sederajat dengan darurat, sedangkan termasuk perkara yang dimaklumi bersama bahwa tujuan syari’at yang paling penting adalah menumbuhkan maslahat dan membedung mafsadat.

2) Majelis mewasiatkan kepada para pemimpin kaum muslimin dan pemimpin markaz agar mereka tidak bersikap keras dalam masalah ijtihadiyyah (berada dalam ruang lingkup ijtihad) seperti ini yang sangat membawa maslahat yang besar bagi anak-anak muslim selagi tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang jelas.26

b. Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia)

Majelis Ulama Indonesia dalam rapat pada 1 Sya’ban 1423H, setelah mendiskusikan masalah ini mereka menetapkan :

1). Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari – atau mengandung- benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram.

2). Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise, pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.27

C.Kesimpulan dan Penutup 

Setelah keterangan singkat di atas, kami yakin pembaca sudah bisa menebak kesimpulan kami tentang hukum imunisasi IPV ini, yaitu kami memandang bolehnya imunisasi jenis ini dengan alasan-alasan sebagai berikut :

1.Imunisasi ini sangat dibutuhkan sekali sebagaimana penelitian ilmu kedokteran.
2.Bahan haram yang ada telah lebur dengan bahan-bahan lainnya.
3.Belum ditemukan pengganti lainnya yang mubah.
4.Hal ini termasuk dalam kondisi darurat.
5.Sesuai dengan kemudahan syari’at di kala ada kesulitan.

Demikianlah hasil analisis kami tentang masalah ini, maka janganlah kita meresahkan masyarakat dengan kebingungan kita tentang masalah ini. Namun seperti yang kami isyarakatkan di muka bahwa pembahasan ini belumlah titik, masih terbuka bagi semuanya untuk mencurahkan pengetahuan dan penelitian baik sari segi ilmu medis maupun ilmu syar’i agar bisa sampai kepada hukum yang sangat jelas. Kita memohon kepada Allah agar menambahkan bagi kita ilmu yang bermanfaat. Amin.

Daftar Referensi

1. Ahkamul-Adwiyah Fi syari’ah Islamiyyah kar. Dr. Hasan bin ahmad al-Fakki, terbetin Darul-Minhaj, KSA, cet. Pertama 1425H.
2. Al-Mawad al-Muharromah wa Najasah fil Ghidza’wad-Dawa’ kar. Dr. Nazih ahmad, terbitan Darul –Qolam, damaskus, cet. Pertama 1425 H.
3. Fiqih Shoidali Muslimin kar. Dr. Kholid abu Zaid ath-Thomawi, terbitan Dar shuma’i, KSA, cet. Pertama 1428 H
4. Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia
5. dan lain-lain


Catatan Kaki :
1.Al-Mawad al-Muharromah wan-Najasah Fil-Ghidza’ wad-Dawa’ kar. Dr. Nazih Hammad hlm. 7-8
2.KBBI Edisi Ke tiga Cetakan ketiga 2005 hlm. 1258.
3.Sumber:medicastore.com. Lihat pula al-Adwa kar. Ali al-Bar hlm. 126, Ahkamul Adwiyah Fi Syari’ah Islamiyyah kar. Dr. Hasan al-Fakki hlm. 128.
4.Ahkamu Tadawi kar. Ali al-Bar hlm. 22 
5.Ibnul-Arobi berkata: “Menurutku bila seorang mengetahui sebab penyakit dan khawatir terkena olehnya, maka boleh baginya untuk membendungnya dengan obat.” (al-Qobas: 3/1129)
6.Majmu’ Fatawa wa Maqolat Syaikh Ibnu Baz: 6/26
7.Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia hlm. 369
8.Lihat Al-Mawad al-Muharromah wan-Najasah hlm. 16-38, Ahkamul Adwiyah Fi Syari’ah Islamiyyah hlm. 187-195, Fiqh Shoidali al-Muslim kar. Dr. Khalid abu Zaid hlm. 72-84.
9.Lihat Hasyiyah Ibni Abidin:1/210
10.Roddul-Mukhtar’: 1/217, al-Muhalla: 7/422
11.al-Majmu’: 2/572 dan al-Mughni: 2/503
12.Al-Ikhtiyorot al-Fiqhiyyah hlm. 23
13.Sailul-Jarror: 1/52
14.Lihat masalah ini secara luas dalam kitab al-Istihalah wa ahkamuha Fil-Fiqh Islami kar. Dr. Qodhafi ‘Azzat al-Ghonanim.
15.I’lamul-Muwaqqi’in: 1/394
16.Majmu’ Fatawa: 21/508, al-Fatawa al-Kubro: 1.256
17.Al-Fatawa al-Kubro kar. Ibnu Taimiyyah: 1/143, Taqrirul-Qowa’id kar. Ibnu Rojab: 1/173
18.Al-asybah wan-Nazho’ir Ibnu Nujaim hlm. 94 dan al-Asybah wan-Nazho’ir as-Suyuthi hlm. 84
19.Qowa’idul-Ahkam hlm. 141
20.Al-Muwafaqot kar. Asy-Syathibi: 1/231
21.Qowa’idul-Ahkam hlm. 60
22.Syarh Shohih Muslim kar. An-Nawawi: 13/153, Ma’alim Sunan kar. Al-Khoththobi: 4/205
23.Lihat Hasyiyah Ibni Abidin: 4/215, al-Majmu’ kar. An-Nawawi: 9/50, al-Muhalla kar. Ibnu Hazm: 7/426
24.Lihat al-Kafi kar. Ibnu Abdil Barr hlm. 440, 1142, al-Mughni kar. Ibnu Qudamah: 8/605
25.Ahkamul Adwiyah Fi Syari’ah Islamiyyah hlm. 187. 
26.Website Majlis Eropa Lil Ifta’wal Buhuts/www.e-cfr.org, dinukil dari kitab Fiqh Shoidali al-Muslim hlm. 107.
27.Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia hlm. 370.

Sumber : 
Majalah Al-Furqon, Edisi 05 Th. ke - 8 1429 H/2008 M, Oleh : Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi.

12 komentar:

  1. Kalau dibilang darurat, sampai kapan mau darurat terus? yang ada jatuhnya jadi syubhat, tidak jelas.

    BalasHapus
  2. Assalamu'alaikum..
    mohon info:
    1. Dibuat dari apakah vaksin itu, bahan lengkapnya, prosesnya?
    2. Bagaimana reaksi tubuh jika dimasuki vaksin dalam jangka pendek dan jangka panjang?
    3. Apakah virus vaksin selama didalam tubuh akan mati atau akan berkembang biak atau bahkan mutasi?
    4. Secara empiris statistik adakah bukti orang yang di vaksinasi lebih sehat dari orang yang tidak di vaksin pada waktu masih bayi?
    5. Walaupun sedikit, ga adakah pengaruh vaksin ke otak bayi yang masih dalam masa perkembangan?

    6. Adakah dokter2/ praktisi kesehatan kita pernah melakukan penelitian bahan2 alternatif seperti Madu, Kolustrum ASI, propolis, kurma, spirulina atau bahan lainnya yang alami?
    Walaupun cara kerjanya berbeda ,tetapi kalau hasilnya sama ( menguatkan sistem kekebalan tubuh ), kenapa tidak dicoba?
    Dan lagi, percobaanya bisa langsung ke MANUSIA, bukan HEWAN.....

    Makasih atas tanggapannya..

    wassalamu'alaikum wrwb..


    -zaki-

    BalasHapus
  3. Assalamu'alaikum..
    mohon info:
    1. Dibuat dari apakah vaksin itu, bahan lengkapnya, prosesnya?
    2. Bagaimana reaksi tubuh jika dimasuki vaksin dalam jangka pendek dan jangka panjang?
    3. Apakah virus vaksin selama didalam tubuh akan mati atau akan berkembang biak atau bahkan mutasi?
    4. Secara empiris statistik adakah bukti orang yang di vaksinasi lebih sehat dari orang yang tidak di vaksin pada waktu masih bayi?
    5. Walaupun sedikit, ga adakah pengaruh vaksin ke otak bayi yang masih dalam masa perkembangan?

    6. Adakah dokter2/ praktisi kesehatan kita pernah melakukan penelitian bahan2 alternatif seperti Madu, Kolustrum ASI, propolis, kurma, spirulina atau bahan lainnya yang alami?
    Walaupun cara kerjanya berbeda ,tetapi kalau hasilnya sama ( menguatkan sistem kekebalan tubuh ), kenapa tidak dicoba?
    Dan lagi, percobaanya bisa langsung ke MANUSIA, bukan HEWAN.....

    Makasih atas tanggapannya..

    wassalamu'alaikum wrwb..

    BalasHapus
  4. @wahyu dan @zaki , serta para pembaca lain perkenalkan saya Ummu Harits Al Maidany seorang dokter dan ibu dr bayi yg pd saat menulis komentar ni berusia 15 bulan....saya merasa perlu menjawab krn tidak ada yg menjawab,,,,pdhl link ini tlh banyak jd rujukan u masalah imunisasi...saya pun juga merujuk ke sini untuk mnjwb pertanyaan teman2 sesama ummahat...jd mohon izinnya ya pak azwar...
    pertama sekali perlu disadari bahwa vaksin polio itu ada2 macam, 1. vaksin polio oral (OPV) yg diberikan dgn cara tetesan
    2. vaksin polio injeksi (IPV) yang diberikan dgn cara di suntikkan


    tidak ada keraguan sampai saat ini yg saya ketahui bahwa vaksin polio oral itu HALAL.
    nah yang dibahas di dalam tulisan ini adalah menegnai vaksin polio injeksi...yang sempat ada kontroversinya...

    di indonesia, vaksin polio oral diberikan pd anak2 yang mmg sehat..vaksin ini bs diperoleh di puskesmas, posyandu, klinik , RS.
    vaksin polio IPV diberikan pd anak2 yang punya gangguan sistem kekebalan tubuh (daya imun) misalnya anak2 dengan HIV, anak2 dengan penyakit kanker, anak2 dengan terapi obat kortikosteroid....yang karena kondisinya yang demikian maka disebut darurat dlm hal ini...


    jadi bagi yang anaknya sehat, sudah ga perlu ragi2 kalo mau vaksin polio oral..kan ga ada masalah..

    skrg cuma bagaimana dgn yg memakai IPV?
    sebelum kita jawab, kita harus menyadari dahulu
    penyakit polio merupakan penyakit yang fatal akibatnya, berakibat pada kelumpuhan anggota gerak, kaki misalnya...
    apakah anak2 dengan daya tahan tubuh lemah itu kita biarkan dengan resiko terpapar pada polio, dengan harapan bahwa kalo Allah menghendaki dia tidak terkena sakit polio, dia akan sehat insya Allah, sebagaimana para sahabat zaman dahulu juga tidak pernah divaksin?

    padahal kita sudah tahu bahwa
    1. anak2 dgn daya tahan tubuh lemah akan lebih mudah untuk terkena penyakit, tmsk polio...sudahlah mereka menderita dgn sakitnya saat ini, masih ada lagi paparan resiko terkena polio lagi...bisa anda bayangkan???
    2. polio akibatnya fatal
    3. ada usaha untuk mencegah agar mereka tidak terkena polio
    4. bahwa usaha tidak menghapus tawakkal
    5. bahwa dalam keadaan darurat vaksin IPV diperbolehkan
    6. anak2 adalah generasi penerus bangsa, anak2 dgn cacat akibat polio bukanlah yg dimaui generasi muslim sbg generasi yg kuat

    tentu sebagai muslim cerdas bijaksana kita bisa memilah informasi, mengkritisi dengan baik, dan memilih keputusan terbaik berdasarkan informasi yg benar dan shahih...



    kalaulah tidak ada cela dengan suatu usaha, dan usaha tsb
    memang penting, mengapa tidak?


    kalau mmg masih ada yg kurang jelas, silahkan
    cari info lagi atau tanya di sini...

    BalasHapus
  5. saya ada pertanyaan sebenarnya untuk semua...apakah pada zaman dahulu sudah ada penyakit polio, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis ?? ini benar2 pertanyaan,,,,krn banyak yg menganalogikan bahwa para sahabat dahulu juga sehat2 walau tidak divaksin...alhamdulillah saya bangga dengan kenyataan itu. saya sudah tahu kalau kolera mmg pernah ada ya..nah bagaimana dgn penyakit2 yg saya tanya di atas? karena sepengetahuan saya, tidak semua penyakit yang ada di zaman skrg ini, sudah ada pd zaman sebelum2nya...contoh ekstrimnya mungkin penyakit HIV...

    karena, kalau penyakit itu belum ada pd zaman itu, tentu tidak fair membandingkannya

    sama seperti pernyataan bahwa orang dahulu (misal zaman tahun 1900an) ga pernah sakit kanker, jantung, DM,sakit yang aneh2....zaman skrg penyakit banyak...
    padahal mungkin sebenarnya penyakit itu sudah ada, namun belum dinamai spt saat ini, karena belum ada yg mendiagnosisnya sbg penyakit itu...ntah karena blm banyak dokter ataupun alat pemeriksaannya belum ada....

    BalasHapus
  6. untuk pertanyaan panjang pak zaki...mudah2an saya punya waktu menjawabnya..karena tentunya jawaban yg berbobot perlu bukti2 ilmiah dan waktu untuk menulisnya..bahkan mungkin perlu waktu 1-2 tahun untuk memahamkan mahasiswa kedokteran ttg pertanyaan2 bapak

    saya jd ingat perkataan seorang ustadz, bahwa sbnrnya label halal pd makanan itu kurang tepat,,,krn pada dasarnya makanan itu sudah kita ketahui dasarnya adalah halal...atau masalah misalnya kita makan bakso di tukang bakso..apakah kita perlu selidiki bagaimana itu potong dagingnya ,disembelih baca bismillah dulu ga...kan tidak spt itu....

    nah sama dgn itu, andai kepercayaan kita pada dokter, atau pemerintah atau juga BPPOM MUI dalam masalah kesehatan sudah baik, tentu cukup bagi kita tahu bahwa vaksin ini halal, kita percaya dan ga ragu2...
    tapi mungkin mmg kepercayaan kita thd mereka2 ini yg kurang ya??? sehingga pertanyaan2 ttg hal2 ini juga ga 1-2 kali ditanyakan pd orang2 spt saya...

    hmmmm

    tapi apapun itu pak alasan bapak bertanya, saya hargai kekritisan bapak dan sikap wara bapak....

    BalasHapus
  7. saya mau mengabadikan link bantahan thd bukunya Ummu Salamah, yang sangat2 mungkin banyak juga dibaca pembaca yg mencari info imunisasi ke link pak azwar..

    http://www.ykai.net/index.php?option=com_content&view=article&id=380:telaah-buku-imunisasi-dampak-dan-konspirasi&catid=89:artikel&Itemid=121

    ini bukti bahwa buku beliau asal tulis dan g ilmiah....afwan wallahu a'lam bishshawab

    BalasHapus
  8. Saya menemukan pertanyaan/diskusi menarik di atas dan jawaban dr. Ummu Harits, serta juga nasihat dari ttg upaya untuk menjadi muslim yang cerdas bijaksana yang bisa memilah informasi, mengkritisi dengan baik, dan memilih keputusan terbaik berdasarkan informasi yg benar dan shahih.

    Dengan semangat untuk berhati2 dan mencari informasi yang benar tadi, dan sebagaimana mungkin Ummu Harits (atau juga Pak Azwar -yang blm muncul2-) cermati, banyak pro-kontra tentang asal muasal vaksin/imunisasi, mulai dari bahannya, ide/asalnya, anggapan adanya konspirasi Yahudi di dalamnya, dst.

    Salah satu yang membawa keterangan historikal adalah yang saya baca di http://saefoel.blogspot.com/2010/05/bahaya-imunisasi.html (mengutip tulisan dari Tio Alexander).

    Tentang yang terakhir dan yang semisal ini, barangkali pernah/sempat menelaah isu/kabar seperti itu? (yang di antaranya kabarnya dari strategi Yahudi yang malah akan melemahkan sistem pertahanan tubuh, bukan memberi kekebalan?).

    Kalau benar2 konspirasi (terkait kandungan, efek samping dst, plus bukti2 di negara2 yang disebutkan), tentunya mesti kita jauhi. Tapi kalau isu konspirasi tadi malah merupakan konspirasi tersendiri, malah tentunya sebaliknya.

    Mohon penjelasan/keterangannya dan terima kasih sebelumnya.

    Abu Yusuf

    BalasHapus
  9. silakan dijawab oleh ahlinya..www.almishbah.com

    BalasHapus
  10. ini ada link tentang sejarah, bagaimana vaksin dibuat, bagaimana vaksin bekerja,
    http://www.historyofvaccines.org/articles

    BalasHapus
  11. tulisan bagus...

    nitip link ya:

    http://subhanallahu.multiply.com/journal/item/160/Buat_Yang_Ragu_Pahami_8_Fakta_Penting_Soal_Imunisasi?

    http://subhanallahu.multiply.com/journal/item/161/Pengertian_DasarKonsep_Imunisasi

    BalasHapus
  12. tidak imunisasi tdak menyebabkan kematian kan? itulah kalo ilmu pengetahuan berkembang tanpa patokan agama

    BalasHapus